Jumat, 22 Februari 2013

Ikan Pembawa Keberuntungan


Ini bukan ihwal klenik semacam air dukun cilik Ponari. Bukan pula tentang ayam bulu terbalik, cicak ekor cabang, bulus putih, atau serupanya, yang sebagian orang meyakininya dapat membawa keberuntungan. Apalagi perihal manusia mini bernama jenglot dan tuyul. Tentu saja bukan tentang semua yang disebut itu, kendati pun ini ihwal keberuntungan (luck).
Ihwal keberuntungan (luck) itu ada pada lukisan, tepatnya sebuah pameran lukisan bertajuk “Symbolism of Luck” di lobi Hotel Four Season Jakarta 8 Juli-1 Agustus 2011. Pelukisnya bernama Dirot Kadirah, pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat. Ia pernah lebih kurang tujuh tahun mencecap pahit manis dinamika perkembangan seni lukis di Pulau Dewata. Kini, ia memilih tinggal dan berkarya di Jakarta.
Bagi saya, Dirot adalah seorang kawan, karena saya dan dia sering terjebak dalam situasi saling membutuhkan. Ia juga seorang saudara, karena saya berasal dari daerah yang sama dengannya, dan dulu saya sering menumpang makan-minum di rumahnya. Lebih dari itu, ia adalah seorang pelukis besar, karena sejumlah teman menyebutnya demikian. Untuk sebutan terakhir itu, saya tidak pernah mendengarnya langsung terucap dari mulutnya. Kepada saya, Dirot hanya pernah menyebut dirinya sebagai tukang gambar saja.
“Ikan. Ikan itu simbol keberuntungan,” begitu kata Dirot suatu ketika, saat saya tanyakan kenapa senang melukis objek ikan. Banyak benarnya. Bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan nasib pada laut yang penuh misteri, ikan adalah nyawa mereka. Ada ikan, bisa makan. Tidak ada ikan, rezeki tertahan. Sederhana saja logikanya. Namun Dirot yang dibesarkan dalam lingkungan masyarakat pesisir merenungi dalam-dalam logika sederhana itu. Alhasil, ikan-ikan yang ia hadirkan di hamparan kanvasnya memunculkan aura semangat, harapan, dan keberuntungan (luck).
Sebagai pelukis, cara Dirot memahami ikan terbilang luar biasa. Sebab itu, meski sejumlah lukisannya meghadirkan objek yang sama (ikan) namun, saya selalu menjumpai pemaknaan yang berbeda-beda pada setiap lukisannya. Hal itu rupanya sebanding dengan upaya keras Dirot dalam memahami objek-objek lukisannya. Meskipun di hadapan kanvas ia melukis dengan ekspresif dan relatif cepat, tetapi sejatinya ia telah menggali ide itu sekian lamanya. Ia tak segan pergi ke laut, naik perahu klotok bersama nelayan tradisional untuk berburu ikan. Bukan sekadar cari inspirasi, tapi sungguh-sungguh ingin menjadi bagian dari semangat perjuangan mereka di tengah samudra. Kadang kala, ide itu ia bangun berdasarkan mimpi yang ia renungkan berhari-hari. Begitulah Dirot.
Sore itu, saya bertemu ia di lobi Hotel Four Season, di mana lukisan-lukisannya sedang dipamerkan di sana. Sungguh menakjubkan, ikan yang besar-besar itu seolah menari-nari di antara lalu lalang para tamu hotel yang perlente. Mereka terus saja menari bersama para nelayan bertubuh kekar, di antara warna-warni cerah penuh harapan. Mereka menyanyikan lagu harapan, kidung doa menanti keberuntungan. Tiba-tiba Dirot mengucap sebuah kalimat, “Biasanya tak terduga.” Iya, keberuntungan seringkali datang tak terduga….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar